Jalan-Jalan ke Tepian Danau Purba Bandung

February 7th, 2008 by mahanagari

sudah pada terima gaji bulan ini, bukan? nah, mulailah menyisakan gajinya atau nabung-nabung dari sekarang, karena Mahanagari akan membawa kamu (bagi yang berminat) ke …

Jalan-Jalan ke Tepian Danau Purba Bandung

Mahanagari mengajak anda napak tilas secukil kehidupan manusia pra sejarah Bandung, jelajahi kawasan bukit dan gua yang eksotik, menikmati pesona fosil-fosil binatang koral 23 juta tahun yang lalu dan berjalan-jalan di kawasan taman batu serta mengamati fenomena geologi dan geografinya.

Lokasi:
Museum Geologi Bandung (Pemutaran film bandung purba)
Pasir Pawon, Citatah-Padalarang
Tanjakan frustasi
Gua Pawon, Citatah-Padalarang

Waktu:         
Sabtu, 23 Februari 2008
09.00 – 17.00

Pitstop:      Museum Geologi, Jalan Supratman Bandung
Finish at:   Mahanagari, Dipati Ukur 21

Harga: Rp 135.000/orang  (tambah Rp 50.000/orang kalau include T-Shirt Mahanagari)

Tempat terbatas, hanya untuk 25 orang. Harga sudah termasuk:
·Transportasi pp (by Bus, full AC)

·Souvenir Mahanagari

·Scrapbook Mahanagari

·CD dokumentasi

·Makan Siang

·Air mineral

·Biaya lokasi kunjungan

Cara pendaftaran dan pembayaran

- Langsung ke showroom kami di CiWalk atau Dipati Ukur 21

- Per telpon ke ulu 0813-94889090 / 2012437, pembayaran lewat transfer

- Lewat internet ke www.mahanagari.multiply.com atau email ke mahanagari@gmail.com, pembayaran lewat transfer

-Pendaftaran dan pembayaran paling lambat tanggal 17 Februari 2008

-Transfer pembayaran melalui:
Bank Mandiri  : no. Rekening 1320004157591 a.n Ben Wirawan/Hanafi Salman

Keterangan:   Peserta dimohon untuk datang 10 menit sebelum tur berlangsung,

disarankan menggunakan sepatu track dan membawa payung/jas hujan.

Tour de Pangalengan: Info Detil

November 14th, 2007 by mahanagari


Ini untuk menjawab banyaknya pertanyaan yang masuk ke Mahanagari soal Tour de Pangalengan tanggal 1 Desember 2007

Tour de Pangalengan
– Rate and Route

Rute :

Bandung
(Mahanagari Dipati Ukur 21) – PLTA Lamajan – Lori Tua – Perkebunan
Malabar- Gunung Nini – Makam Boscha – Situ Cileunca – Arung Jeram

Waktu : all day ( 07.00-17.00)

Harga : Rp 250.000,00/pax

Harga termasuk :

- Transportasi dari Bandung-Pangalengan (Land Rover/Kijang)

- Snack dan makan siang

- Biaya masuk ke semua tempat tujuan wisata

- Biaya arung jeram

- Hand out /brosur informasi kegiatan

- Guide

- Dokumentasi berupa CD berisi foto-foto

Cara pendaftaran dan pembayaran

- Langsung ke CiWalk atau Dipati Ukur 21

- Per telpon ke ulu 0813-94889090, pembayaran lewat transfer

- Lewat internet ke www.mahanagari.multiply.com atau email ke mahanagari@gmail.com, pembayaran lewat transfer

- Pendaftaran dan pembayaran paling lambat tanggal 24 November 2007 (seminggu sebelum acara)

- Transfer pembayaran melalui:

Bank Mandiri : no. Rekening 1320004157591 a.n Ben Wirawan/Hanafi Salman

Pertanyaan-pertanyaan yang banyak ditanyain:
- Anak kecil boleh dibawa ga? Anak
kecil di bawah 8 tahun boleh dibawa, gratis dan ga kita pungut biaya
tambahan, tapi ga bisa ikutan rafting alias arung jeram. Anak umur 8
tahun ke atas udah membayar.

- Kalo sebelumnya ga pernah arung jeram gimana? Sebelum
acara arung jeramnya kita bakal ngajarin cara-cara berarung jeram yang
baik supaya aman. Kita juga bakal berlatih dulu di situ Cileunca
sebelum nyebur ke Sungai Palayangan. Dan ga usah khawatir, sungai
Palayangan lumayan aman buat 1st timer kok….dan di setiap perahu akan
ada skipper berpengalaman yang bakal memandu kita, ditambah dengan tim
rescue yang siap siaga di sepanjang perjalanan

- Terbuka untuk umum ga? Ya
iyalah, makanya diposting disini, hehehe….terbuka buat siapa saja,
orang Bandung, orang Jakarta, siapapun yang mau ikutan, tertarik dan
mau bayar (atau punya temen yang mau bayarin, hehehe).

- Pendaftaran terakhir kapan? Pendaftaran
terakhir tanggal 24 November, seminggu sebelum acara. Ini termasuk
pembayaran. Soalnya untuk acara ini kita ga nerima pendaftaran dan
pembayaran di tempat. Bisa dp dulu sih untuk memastikan
keikutsertaannya.

- Gimana kalo pengen ikutan turnya ga pengen ikutan rafting, ada diskon ga? (Terutama buat ienha)..ada diskon, tapi kita masih rundingkan berapa harganya, hehehe….

Jadwal Tur Mahanagari sampai Desember

October 1st, 2007 by mahanagari

Berikut ini adalah jadwal tur Mahanagari selama bulan Oktober sampai dengan Desember.

Ngabuburit Tour Dago Pojok-Tanggulan : 6 Oktober 2007, jam 4 sore

Jalan-jalan
ke sepotong kampung yang masih tersisa di Dago. Kita bakal belajar
bikin Daluang, kertas tradisional Indonesia yang dibuat dari pohon Saeh
bersama Mufid. Juga bakal jalan-jalan ke sawah dan mengamati kehidupan
di kampung sana. Bakal di guide oleh Opa Felix, tour guide senior dan
eksentrik. Jalan-jalan ini bakal diakhiri dengan acara buka puasa
bareng di sawah :) pake nasi liwet.

O, ya, karena kategori tur-nya yang low impact, jadi keluarga (baca: anak) bisa dibawa untuk ikutan tur ini.

Darkcrosser’s CrossCountry Cycling Bandung South Ranca Upas-Situ Patengan : 3 November 2007

Jalan-jalan
yang memicu adrenalin naik sepeda Cross Country bersama geng
darkcrosser ke Bandung bagian selatan, tepatnya ke jalur Ranca
Upas-Situ Patengan. Jalur ini masuk kategori A, yaitu aman dan
bersahabat buat 1st timer (for mommies too :p). Jarak max.15 km. Sepeda
disediakan, kok!

Harga Rp 250.000,00/orang, prices include :
basecamp’s light breakfast, shortcourse & trip instructors and
guides (4 crossers : leader, sweeper, bike technician, photographer),
darkcrossers’s XC spec. double suspension bike, safety gears (helmet,
backlite vest, shinguard) raincoats, transport to start / finish point,
water + snack, 1x lunch, digital documentation (1cd), trip safety
insurance, darkcrossers trip certificate for @ riders.

Tour de Pangalengan : 1 Desember 2007

Jalan-jalan
ke Pangalengan, naik lori jaman Belanda di PLTA Lamajan, jalan-jalan ke
kampung wisata Cikondang, trus menyambangi perkebunan Malabar napak
tilas jejak Boscha, dan diakhiri dengan arung jeram (airnya sudah
banyak, hehehe..) di sungai Palayangan. Pulangnya bisa mampir beli
permen susu karamel

Harga Rp 250.000/orang, sudah termasuk
transport ke dan dari Pangalengan, makan siang, snack, biaya dan
peralatan arung jeram, tiket masuk ke tempat-tempat wisata, asuransi,
dan dokumentasi (CD).

Buat yang tertarik mengikuti tur-tur di
atas bisa menghubungi ulu di mahanagari@gmail.com, atau di 2012437
atau di 0813-94889090, atau datang ke counter Mahanagari Dipati Ukur 21.
Untuk member Mahanagari ada diskon.

Nowhere Tour with Opa Felix

September 13th, 2007 by mahanagari

Sebenarnya kita mau ke Kampung Wisata Cibolerang. Cuma karena pada hari
Rabu kemarin itu ada SBY di Unpad, yang membuat jalur kendaraan dalam
radius satu kilo dari Unpad dikosongkan, jadilah semua rencana itu
berantakan.

Sambil makan di Dipati Ukur 21, saya,
Yori-punggawa Mahanagari, dan opa Felix Feitsma-tour guide senior
Bandung, merencanakan apa yang akan dilakukan, karena walaupun telat dua jam, kita udah ngumpul.

Opa
pun mengusulkan untuk Nowhere Tour ke Dago Pojok-Tanggulan. ‘Nowhere
tour itu apa opa?’ saya dan Yori nanya. ‘Nowhere tour itu ya
jalan-jalan, trus ya kita liat aja ada hal menarik apa disana. Pasti
ada, walaupun saya belum tau apa.’

Hmm…sounds interesting, jadi saya dan Yori-pun sepakat untuk nowhere tour ke Dago Pojok-Tanggulan.

Kita
memarkir kendaraan di Dago Tea House lalu berjalan ke bawah. Melewati
Sekolah Alam Bandung, lalu mata disuguhi pemandangan yang agak ajaib
untuk ukuran sebuah tempat bernama Dago. Sawah! Sawah, anak-anak bermain layang-layang, dan seorang bapak mengajari anaknya bermain jajangkungan. Yori langsung komentar.’Ini di Dago?’

Kita
berjalan menyusuri sawah. Opa Felix berkomentar bahwa sawah di daerah
Tanggulan ini sudah mulai terancam keberadaannya, karena sebagian sudah
dikonversi jadi rumah tinggal. Beliau pun mengusulkan ide untuk bikin
gerakan menyelamatkan sawah di Tanggulan, karena sawah ternyata bukan
cuma hijau, asik, dan bisa dimakan ketika sudah jadi beras, ternyata
sawah juga jadi tempat terapi buat anak-anak autis. Terbukti sore itu
kita bertemu dengan beberapa orangtua yang memberikan terapi pada
anaknya.

Di
Tanggulan ini menarik karena kampungnya selain masih hijau oleh sawah,
kebiasaan mandinya pun masih komunal alias mandi bareng di pemandian
umum. Sore itu kita melihat ibu-ibu yang mandi dan mencuci di selokan
yang merupakan saluran air menuju PLTA Dago Pojok. PLTA Dago Pojok sendiri sampai sekarang masih berfungsi dan menyalurkan listrik untuk Bandung.

Di
sudut sawah, kita mampir ke sebuah rumah beralaskan tanah milik Pak
Emen. Beliau adalah penggarap sawah di daerah Tanggulan, sudah sekitar
17 tahun. Selain sawah, Pak Emen juga memelihara dua ekor kerbau yang
kandangnya ada di halaman rumahnya. Yang lucu, pas Yori mengelus-ngelus
kerbau yang satu, kerbau yang lainnya rupanya pengen dielus-elus juga
dan marah ketika Yori tidak mengelus-ngelusnya. Rupanya si kerbau suka
ama Yori (ding, jangan marah Yor…secara kerbaunya kan kata Opa Felix
lagi musim birahi, hahaha…sialnya kok dia milih Yori). Ketika saya
dan Yori lagi asik mengamati si kerbau, kita berdua mikir, gila ya, ini
di Dago lo, bukan di Garut atau Sukabumi Selatan. Ga nyampe sekilo dari sini ada Factory Outlet, ada Institut yang katanya melahirkan orang-orang canggih di Indonesia, dan di sini rumahnya masih beralaskan tanah dan tanpa listrik.

Dari
Pak Emen kita menuju perkampungan di sana yang rupanya menyimpan para
seniman. Kita mampir ke workshop Mufid, dahulu pemain piano untuk
Mukti-Mukti, sekarang bermain untuk Syarikat Keroncong, yang sekarang
mendalami pembuatan Daluang.

Daluang adalah kertas tradisional Indonesia yang dibuat dari kulit pohon saeh atau paper mulberry (broussonetia papyrifera
vent). Proses pembuatannya dari kulit pohon menjadi kertas cukup unik,
dengan dipukul-pukul. Mufid memberikan ceramah singkat soal daluang dan
beberapa perbandingan dengan kertas dari Jepang. Menarik banget.

Sayangnya,
kita harus mengakhiri Nowhere Tour ini karena hari sudah menjelang
malam. Saya pulang dengan membawa bibit pohon Saeh yang diwanti-wanti
Mufid, ‘Ditanam ya, karena pohon ini udah mulai langka dan susah
nyarinya…’. Kita pun balik lagi ke Dago Tea House.

Btw,
dari sini keliatannya kita bakal bikin acara ngabuburit di Tanggulan di
akhir bulan September ini dengan acara workshop bikin Daluang, belajar
main Karinding, dan ngaliwet buat buka puasa. Detilnya nanti dikabari
ya…

nc for mahanagari

Pameran Kaos Mahanagari Pertama - Galeri Rumah Teh -Dago Tea house

August 28th, 2007 by mahanagari

Resize_2

Alhamdulillah, setelah berbulan-bulan cuman jadi cita-cita,
akhirnya kita berhasil membuka pameran Kaos Oblong Mahanagari yang Pertama yang
akan diadakan selama satu minggu mulai tanggal 25 Agustus sampai 2 September
2007.

Terima kasih kepada seniman dan kurator Isa Perkasa yang mengundang kita untuk
Pameran di

sana

.
Jujur aja, gak nyangka karya kita di kaos bakalan mendapatkan apresiasi yang
baik seperti itu. Nuhun .. nuhun .. nuhun

Kemarin pembukaannya dilakukan oleh senior kita, Mas Wiwied C59, selain dari
Dinas Pariwisata Jawa Barat dan tentu kang Isa sendiri.

Mahanagari (hanya) menampilkan 15 desainnya yang digantung mengambang di dalam
ruang galeri bersamaan dengan foto dan profil urang

Bandung

yang menggunakan kaos Mahanagari.
Profil urang

Bandung

yang dipajang di

sana

adalah potret manusia
biasa yang menjadi inspirasi kaos  atau memiliki keterikatan tertentu
dengan kaosnya. Pemotretan terhadap 15 urang

bandung

ini dilakukan hanya dalam 3 hari,
ditambah waktu editing dan pengerjaan selama 2 hari. Pekerjaan Gila! Capek
banget .. jangankan orang yang motretnya, kamera saya juga kecapekan .. he he
he

Terimakasih banyak kepada para "local genius" yang bersedia kita
potretin. Mereka semua bageur pisaaan, mau meluangkan waktu, membuat janji
dalam waktu yang sangat sempit, dan hebatnya: semuanya tidak meminta imbalan!
Jadi terenyuh, nih. 
Mari kita doakan semoga dapet balasan yang setimpal untuk  : 
1. Emon Kingkong, tukang permak Jeans di Cihampelas (desain Djins Tjihampelas
karya Hanafi)
2. Agas Marmot, Kepala Keamanan Gedung Sate (desain Gedung Sate karya Kang
Isan)
3. T. Bachtiar, Geograf Senior Bandung (desain Bandung Dilingkung Ku Gunung
karya Hanafi)
4. Teh Wida Widyawati, Direktur Wayang Cupumanik (desain Cepot karya Akbar)
5. Opa Felix Feitsma, Tour Guide Senior (desain Aksara Sunda Kuno karya Hanafi)
6. Kang Robby Darwis, Legenda Persib (desain Persib vs MU karya Hanafi)
7. Uji, Pelatih Yoga (desain Ambigram

Bandung

karya Yaya)
8. Nigger, Desainer & Basketball Hobbyist (desain Cicadas Beling karya
Hanafi)
9. Donner, Pembawa Acara "Mamam Yuk!" STV dan Offroad Hobbyist
(desain Digesting Bandung karya Hanafi)
10. Sybrand Zijlstra, Editor Buku Belanda (desain Rute Angkot karya Hanafi)
11. Ruhyat, Sopir Angkot Riung Bandung Dago (desain Riung Bandung Dago karya
Hanafi)
12. Rini, Pendiri Biro Arsitek "Beau" (desain DAGO karya Hanafi)
13. Fian, Pemain sepak bola kecil dan jagoan kontra salto (desain Balik
Bandung)
14. Aang, Pembawa Acara Bandung Teaa STV, penyiar radio, aktor (desain I Love
Bandung karya Fiman Mustari)
15. Ronal Surapradja, Aktor Extravaganza dan Pemusik Bandung (desain Urang
Bandung keur di Jakarta)

Historically speaking, T-Shirt yang pertama kali digunakan oleh kuli barang di
pelabuhan Annapolis - Maryland pada abad ke 17 sebagai baju kerja, sebenarnya
telah berubah menjadi sebuah media ekspresi sejak James Dean menggunakannya
dalam film Rebel Without a Cause. Sejak itu T-Shirt berkembang menjadi alat
kampanye dan propaganda banyak pihak, mulai kampanye identitas diri, musik,
lingkungan hidup sampai propaganda politik di seluruh dunia. Syukurlah,
ternyata budaya global ini bisa kita manfaatkan untuk kepentingan lokal.

Menyenangkan juga dapat melihat hasil "olah raga otak" yang dilakukan
desainer-desainer dan crew kita dapat dihargai di luar nilai komersialnya
(saja).  Jadi kerasa bahwa yang kita kerjain bukan urusan "duit"
semata, tapi jauh lebih dalam dari itu.
Resize
Pameran masih berlangsung, silahkan datang untuk lihat sendiri, karena di saat yang
sama ada pameran peralatan musik sampah kang Dodong (ini juga
salah satu local genius yang gak ada duanya).

Wasalam,
benben’
for Mahanagari

Pameran ‘Kaos Oblong dan Musik Odong’

August 27th, 2007 by mahanagari

Pameran ‘Kaos Oblong dan Musik Odong’ di Galeri Rumah Teh Dago Tea House dari tanggal 26 Agustus 2007 s.d 2 September 2007 yang menampilkan 15 kaos desain Mahanagari dan musik sampah Dodong Kodir.

Arung Jeram Cimanuk 1

July 29th, 2007 by mahanagari

 - land rover kak isan dengan sang avon bertengger di atasnya-

Awalnya adalah karena para  darkcrossers punya perahu baru. Avon yang katanya kalau di dunia paparahuan adalah mercedesnya perahu. Dody ngajak
Ben, tapi Ben ga bisa karena tangannya terkilir gara-gara paparahuan di
Palayangan. Jadilah tugas mencoba jalur arung jeram ini lalu dialihkan
ke saya.


Berangkat di hari Sabtu telat sejam dari yang dijadwalkan, karena Dody nunggu mobil dan
kakaknya, Kang Rudy, dan kemudian kami nunggu Intan yang hopping di
saat-saat terakhir. Yang nyobain arung jeram kali ini berenam. Saya,
Dody sang kepala suku Darkcrossers, Kak Andi Yudha (iya, yang dari Mizan itu), Kang Rudy, Kang Guntur dan Intan. Kak Isan sudah menunggu di Garut bersama dengan Avon-nya, sang mercedes. Sedikit-sedikit, saya mulai terbiasa menjadi satu-satunya perempuan di acara seperti ini.
Start point kita di sebuah tempat yang bernama Jager, sebuah tempat
penambangan pasir yang kurang sedap dipandang mata, apalagi diceburin.
Airnya terlihat kotor, dengan tumpukan pasir di mana-mana. Sampah juga
mengait di pepohonan di sepanjang sungai. Kasihan sungainya ya…saya cuma berharap perahu ga terbalik di tempat sekotor itu…gatal pastinya.

-berfoto dulu sebelum nyebur ke sungai-

-jager yang penuh sampah-

Di
awal perjalanan kita banyak mendayung, dan belum bertemu terlalu banyak
jeram. Mungkin karena musim kering, sehingga air surut dan yang muncul
malah batu-batu gede. Setengah jam perjalanan, kita baru bertemu dengan
jeram-jeram kecil. Menurut Kak Isan, skipper kita hari itu, air surut
sampai
dua tiga meter bahkan lebih (terlihat dari batas air dan sampah yang
nyangkut di pohon) sehingga jeram yang biasanya besar menjadi hanya jeram-jeram kecil. Tapi sepanjang jalan kita disuguhi berbagai macam pemandangan, mulai dari air terjun, kemudian batuan yang
mirip seperti stone garden di pinggir sungai (sayang ga sempat difoto)
sampai ke biawak yang sedang berjemur dan burung biru bagus yang
namanya katanya si raja udang. Burung pemakan ikan ini banyak
banget di sepanjang perjalanan (dan tidak seperti kowak di ITB, dia
tidak bikin salju putih dengan kotorannya, hehe..mungkin karena
jumlahnya ga masif seperti di ITB ya…)

- di salah satu air terjun yang kita temui di perjalanan-

- burung raja udang, jangan tanya nama latinnya :p -

Perjalanan
ini seharusnya memakan waktu 3 jam, tapi sampai jam satu kita belum
juga melihat jembatan leuwi goong. Kak Isan mulai sibuk bertanya pada
orang-orang yang banyak memancing di pinggir sungai,’Ka Jembatan Leuwi
Goong tebih keneh kang?’ dan jawaban mereka semua seragam,’Tebih keneh,
aya kana lima kiloan.’ Dan saya langsung berkomentar,’Biasanya kan
orang kampung mah kalo jauh teh suka dibilang deket, nah sekarang
mereka bilang jauh, berarti emang jauh ya.’ Kita semua cuma tertawa
kecut, karena mulai capek mendayung, dan perut mulai terasa lapar, dan
sambel Cibiuk mulai menjadi topik pembahasan.

Ga
berapa lama kemudian Kang Rudy jatuh, karena menghindari bambu yang
hampir mencolok kepalanya. Orang-orang mulai malas mendayung, malah
sibuk ngebahas makanan. Dody malah sibuk main Titanic-Titanic-an di
depan perahu setiap kali ada jeram. Sang skipper, Kak Isan, mulai
kecapekan. Kitapun lalu memutuskan
untuk beristirahat sejenak di sebuah tempat yang keliatannya ada
kampungnya. Beli aqua, karena aqua kita habis, beli makanan kecil dan
pisang yang langsung habis dalam waktu sekejap. Berfoto-foto dulu
dengan anak-anak kampung situ yang ikut bermain dengan si Avon, perahu
kita.

- foto bareng anak-anak kampung di persinggahan -

Lalu
mendayung lagi. Jeramnya mulai cukup asik, walaupun tetap kurang
mengasyikkan dibandingkan musim hujan. Kak Isan mulai berhenti
menanyakan jembatan Leuwi Goong sama orang-orang karena jawabannya
semua sama, masih jauh. Skipper lalu diganti dengan Dody yang bikin
stress karena skipper satu ini kesulitan membedakan kiri dengan kanan,
hahaha…walhasil setiap kali masuk jeram kita seringkali masuk dengan
pantat si perahu di depan, hahaha….di satu jeram yang sulit banget,
akhirnya semua orang turun dari perahu dan nyebur..untungnya air sudah
tidak secoklat waktu di awal perjalanan. hhh..kudu we nyebur mah…dody
pun sibuk memotret saya yang sedang berusaha mencapai perahu (untung
gambarnya tidak sedramatis gambar saya waktu jatuh dari sepeda, jadi
saya ga perlu malu-malu amat) dan sedang belajar cara berenang yang
aman di sungai dengan jeram yang kuat (katanya harus telentang dan
ngikutin arus air). gatel-gatel gara-gara nyebur ini baru kerasa dua
hari kemudian, hehehe…

Perut yang tidak berhenti berbunyi coba
dihibur dengan nyanyian. John Denver dengan Annie’s Song-nya berhasil
membuat satu perahu bernyanyi…
You fill up my senses like a night in a forest
Like the mountains in springtime like a walk in the rain
Like a storm in the desert like a sleepy blue ocean
You fill up my senses come fill me again

Come let me love you let me give my life to youLet me drown in your laughter let me die in your arms
Let me lay down beside you let me always be with you
Come let me love you come love me again

Akhirnya,
setelah mendayung enam jam dengan perut lapar, di jam lima sore kita
mulai mendengar deru kendaraan dan di depan kita muncullah sang
jembatan yang ditunggu-tunggu. JEMBATAN LEUWI GOONG! Masalah
selanjutnya yang menanti kita adalah cara mengangkat sang perahu yang
gede banget itu ke atas melalui jalan setapak kecil. Ga heran, begitu
sampai di atas, semua orang langsung membaringkan dirinya di atas
perahu, beristirahat. Sambil menunggu Kak Isan dan Kang Rudy mengambil
mobil, perahu dikempeskan (proses ngempesinnya aja lama, mesti pake
acara berguling-guling segala), kita makan cendol yang rasanya jadi
enak banget karena kelaparan berat.

  - ini  bukan lagi tiduran, tapi lagi ngempesin sang avon-

Kebayang
kan, ketika nyampe di Cibiuk jam tujuh malam, makanan dan sambal yang
dihidangkan malam itu terasa enakkkkk sekali. Sumpah! Dan pulangnya,
Kang Rudy di mobil nyetel musik delapanpuluhan. Jadilah kita semua
bernyanyi bersama Cindy Lauper dan Annie Lennox di mobil, menghapus
rasa lelah.

If you’re lost, you can look and you will find me,
Time after time
If you fall I will catch you, I’ll be waiting,
Time after time

Keliatannya jalur ini memang ga begitu asik di musim kering. Mau coba jalur lain? Hayu…

-nc for mahanagari-

Downhill and Cross Country Cikole to Dago (Part 2)

July 29th, 2007 by mahanagari

ceritanya diteruskan sama enci,
satu-satunya cewek dan emak-emak yang terjebak dalam perjalanan ini dan
alhamdulillah, survive, hehe..-

Setelah nyoba dua trek
kejurnas, kita memulai perjalanan kita dari Cikole melalui trek yang
namanya Jayagiri 5. Setelah mengisi perut dengan gorengan dan teh
hangat, kita memulai perjalanan masuk ke hutan Jayagiri. Di satu kilo
pertama, kita masih ga bisa ‘ngaboseh’ karena jalurnya becek berat,
berlumpur dan berair. Jadi sepeda dituntun, dan kadang-kadang,
dipanggul (lihat gambar Ben di bawah).

Mahanagari_trip_166_1
Setelah melewati jalur becek dan berair, ‘godaan’ selanjutnya adalah jalur nanjak yang bisa bikin kram paha. Untunglah jalur nanjak ini ga terlalu panjang, kemudian
kami mulai disuguhi jalur downhill di dalam hutan Jayagiri yang treknya
lumayan menegangkan. ‘Drop’-nya banyak dan panjang-panjang, dan
seringkali dipermanis dengan akar
yang bisa bikin kita terguling. Disini hampir semuanya jatuh dan hampir
semuanya juga sudah mulai kebal kalau jatuh, ga dirasa. Selain ‘drop’,
yang juga bikin deg-degan adalah treknya yang seringkali berada di
pinggir jurang. Kata-kata mutiara dari Dody, Leader Tour kita dari
Darkcrosser yang bilang, ‘kalau mau jatuh, pepet
ke kanan, karena kalau ke kanan paling jatuh ke semak-semak, kalau ke
kiri jatuhnya bisa tiga hari baru nyampe,’ diingat dan dihayati banget.
Ga lucu kan kalo kita jatuh ke jurang dan baru sampe ke dasar tiga hari
lagi

Di tengah hutan Jayagiri, kita sempat berhenti dulu buat istirahat dan ngemil gula untuk mengembalikan kekuatan (yang sudah jauh berkurang) dan foto-foto tentu saja. Sempat ketemu sama geng motortrails yang lebih ga environmental friendly dengan suara motornya yang pekak bikin takut binatang-binatang, dan bannya yang
bikin
banyak ‘drop’ jadi lebih berbahaya. Kita lalu meneruskan perjalanan
turun ke Jayagiri. Setelah melewati hutan lebat, kita memasuki daerah
hutan yang lebih jarang, yang ditumbuhi rumput dan pinus. Disini,
cobaan yang lain muncul, jalan berbatu!. Naik sepeda kencang di jalan
berbatu bener-bener ga enak. Getarannya bisa bikin tremor tangan (yang
ga henti-hentinya narik rem), dan kalau jatuh, jangan ditanya. Sakit! Untungnya, ga ada satupun yang jatuh di jalur ini. Mungkin karena ngebayanginnya
aja ga enak, apalagi kalau ngalamin, ya? Jadinya semuanya bergerak
dengan hati-hati. Tapi ada juga jalur jalan setapak yang nyaman banget
buat dipake ngebut, dan Dody sang
kompor mleduk sibuk ngomporin semua orang,’Woi, gas woi! Yang kenceng!’
Jadilah hampir semuanya terpancing untuk ngebut (dan menikmatinya ).

Separuh
perjalanan ini ditutup di jam setengah satu siang (on time!) di rumah
makan Brebes di Lembang. Tapi jangan salah, perjalanan belum berakhir.
Masih ada jalur Lembang-Maribaya-Dago yang harus dilahap.

Setelah
makan siang, agak segar karena sudah pada cuci muka, makan, dan minum,
dan sudah cukup pede dengan sepedanya, perjalanan dilanjutkan menuju Maribaya. Disini, kita mulai bahagia karena kita pikir penderitaan kita sudah mulai berakhir, tapi ternyata tidak. Siksaan selanjutnya menunggu! Kita melewati jalan raya, yang lumayan uphill dan bikin kram (Lemet sempet kram
beberapa kali disini). Dari jalan raya, kita lalu masuk ke jalur
Maribaya, yang berbatu tajam dan curam. Hampir semuanya lalu memilih
untuk turun dan menuntun sepedanya daripada jatuh di atas batu-batu
curam yang pasti rasanya ga enak banget. Disini tangan saya mulai
bermasalah karena mulai mati rasa dan ga bisa dipakai buat narik rem
(jadilah narik rem kanan pake tangan kiri).


Setelah
jalur batu, kemudian muncul jalur lain yang tidak kalah ‘asyiknya’.
Jalur paving blok yang licin dan menyebalkan kalau jatuh. Jalur ini ada
di dalam THR Juanda. Disini mental orang-orang mulai drop. Capek, perjalanan seperti tidak ada akhirnya. Muka Yaya udah ga ada senyum, Intan sempat berhenti agak lama
karena kram, dan sepeda saya juga sempat berhenti agak lama karena
remnya bermasalah. Ketika akhirnya kita nyampe ke depan gua Belanda
(yang berarti udah deket ke Dago) kita bahagia banget. Istirahat lagi.
Capek banget. Capek banget.

 

Setelah nyampe Gua Belanda, dan Dody bilang perjalanan ini secara unofficial sudah berakhir, kita sudah mulai bersemangat lagi. Tapi ternyata hehehe…kenyataannya perjalanan memang belum berakhir. Buat nyampe ke Galeri Padi, lokasi start dan finish acara ini, kita harus melewati undakan tangga dan sang
sepeda harus dipanggul sambil berlari (biar ga kerasa capek kata Dody)
biar sampe ke atas. Muka kita semua jadi pucat lagi ngeliat tangga yang
harus dilewati, dan saya bersyukur jadi perempuan karena sepeda saya
dibawain sama Dody (dan saya yakin semua laki-laki yang bareng saya
pada saat itu untuk beberapa detik ngiri sama saya, for a while, to
hell with feminism, hahaha…). Dengan sisa-sisa tenaga, akhirnya
sepeda, dan kita, bisa juga dinaikin melewati tangga dan akhirnya,
perjalanan pulang menuju Dago! Dan percayalah, jalan raya yang mulus
dan menurun dari terminal Dago menuju Galeri Padi terasa seperti surga
( tapi kayaknya sih di surga ga ada angkot dan motor yang belok
sembarangan, hehe…).

Nyampe di Galeri Padi, kita langsung
mengecek luka. Ben salah satu yang paling parah, tanpa dia sadari. Saya
baru ngerasain sakit di punggung, dan jempol tangan kanan saya mati
rasa selain lengan juga tertarik ototnya. Sambil nungguin foto
ditransfer, disuguhin handuk dingin, air dingin, dan batagor enak,
kitapun saling berbagi cerita. Setelah acaranya selesai sih, kita mulai
merasa menikmati perjalanan ini, hehehe…

Peserta trip kali ini (in alphabetical order) : Ben, Deden, Enci, Intan, Lemet, Yaya’
Temen-temen dari Darkcrosser : Dody, Kang Guntur, Kang Acin, Kang Mei the mechanic, dan Toang the photographer

See you in next trip. Kita akan kabarin jadwalnya secepatnya ya…

-Enci for Mahanagari-

Btw, kalau pengen tahu lebih banyak tentang downhill, bisa cek di web-nya dody di sini

Tour de Pangalengan: Sebuah Catatan

July 10th, 2007 by mahanagari

Pada hari Sabtu, 7 Juli 2007 kemarin, terpaksa
saya bangun pagi-pagi sekitar jam 5 (hobi saya bangun siang, hehe…). Bukan
karena saya mau menghadiri perkawinan, yang katanya banyak sekali di hari
dengan tanggal ‘cantik’ itu, tapi karena pada hari Sabtu itu, Tour de
Pangalengan yang dibuat Mahanagari bekerjasama dengan Cantigi akan dimulai
tepat pada pukul 7 pagi.

Setelah menjemput dua cowok ‘jemputan’, Intan
dari Cantigi yang menjadi operator tur kita kali ini dan Ben, direktur
merangkap tukang sapu Mahanagari, kami sampai ke Dipati Ukur 21, meeting point kita pada  jam 7 pagi pas. Disana sudah ada Lemet, geng
jalan-jalan Mahanagari yang Managing Editor-nya Business Week Indonesia, dan
Utamy dan Adis, dua member Mahanagari yang berkesempatan mencicipi tur kita
kali ini. Tidak lama kemudian muncul Pitra, geng jalan-jalan Geng_jalanjalan
Mahanagari yang
lain, dan Mumun, juga teman yang baru pertama kali ini jalan bareng kita.
Kemudian muncul juga Nanang dari Cantigi dan Nday dan Ogi, teman kita yang
lain. Oden, yang anak Trans TV tapi bukan yang bertugas untuk meliput acara, datang
telat sekitar jam 7.30. Saya sudah berpikir, acara ini akan molor. Apalagi
teman-teman dari Reportase Minggu Trans TV tidak juga keliatan batang
hidungnya. Akhirnya, setelah telpon sana sini, mereka datang sekitar jam 8
setelah kukurilingan di Dipati Ukur mencari Dipati Ukur 21. Maklum, bukan orang
Bandung.

Ternyata membawa reporter mendatangkan ‘masalah’.
Karena pengen ngambil gambar secara ‘sinematik’, ceunah, teman-teman dari Trans
TV terpaksa berkali-kali mengambil ‘take’
hanya untuk menggambarkan gerombolan kami di Dipati Ukur 21. Walhasil, setelah
kami bolak-balik diambil gambarnya seperti pemain sinetron, kami baru berangkat
dari Dipati Ukur 21 jam 9. Molor 2 jam!

Perjalanan menuju Pangalengan menggunakan 2 Land
Rover milik Anhang (Adventure, Hiking, and Rafting) dan 1 mobil kru Trans TV. Kami
mengambil jalan ke arah Dayeuhkolot, karena Kopo pasti ampun-ampunan macetnya.
Di jalan relatif tidak begitu macet kecuali di pasar Banjaran. Memasuki jalan
raya Banjaran-Pangalengan, udara segar dan hamparan pohon-pohon hijau mulai
menyambut. Sebelum perhentian kami yang pertama, yaitu PLTA Lamajan, kami
sempat berhenti untuk mengidentifikasi tempat dahulu berdirinya Radio Malabar,
Radio Telepon pertama di Indonesia yang menghubungkan komunikasi Jawa-Belanda
dan konon katanya punya kekuatan pancar paling kuat di seluruh dunia pada saat
itu. Radio yang dahulu berdiri di lereng gunung Puntang ini sekarang sudah
tidak ada lagi bekas-bekasnya.

Pipa_pesat_1

Setelah Radio Malabar, tidak jauh dari PLTA
Lamajan kami berhenti lagi untuk berfoto di atas Land Rover (ehem) dan mengamati
pipa pesat PLTA berwarna kuning y
ang kontras dengan sekitarnya yang hijau, dan
mendapatkan penjelasan soal pipa pesat itu dari Intan (yang juga harus
menjelaskan berkali-kali demi kepentingan shooting, hehehe…). Ternyata sejarah
PLTA Lamajan dan pipa-pipa kuning itu menarik. Lamajan adalah bagian dari tiga
PLTA tua yang dibangun oleh Belanda. Tahun 1920 , untuk pertamakalinya jawatan
listrik Hindia Belanda terbentuk di Bandung. Dua tahun kemudian, tahun 1922,
PLTA Plengan -yang juga berada di
Pangalengan- dibangun dengan memanfaatkan
aliran air sungai Cisangkuy. Pada tahun 1923 lahirlah PLTA Bengkok di Dago.
Setahun kemudian, PLTA Lamajan pun dibangun dan selesai pada tahun 1925. Fakta
lain yang menarik tentang PLLTA Lamajan ini adalah pipa pesat berwarna kuning
yang dimilikinya ini semenjak dibangun dan dipergunakan dari tahun 1925 tidak
pernah sekalipun bocor!

Jalur_lori  Pada sekitar pukul dua belas siang kami sampai ke
PLTA Lamajan. Disini kami hendak melihat pipa-pipa pesat itu dari dekat dan
melihat turbin tua yang menjadi bagian dari sistem penerangan Jawa-Bali. Bagian
yang cukup menarik dan memicu adrenalin adalah untuk mencapai gedung dimana
turbin-turbin itu berada, kami harus menggunakan lori tua seumur dengan
PLTA-nya yang menempuh trek dengan kemiringan 70-80 derajat. Sebenarnya kalau
kami tidak berani sih bisa memakai tangga yang jumlahnya sekitar 400 anak
tangga. Turun sih ga masalah, tapi pas naik pulang? Nanang, yang pernah naik ke
Cartenz Pyramid saja akhirnya setelah mengarungi separuh jalan naik pakai
tangga akhirnya menumpang naik lori karena, capek euy!


Ditemani Pak Salim dari Indonesia Power kami
memberanikan diri naik lori yang bikin deg-degan itu. Tapi deg-degan itu
terbayar dengan view sepanjang
perjalanan (yang sebenarnya Cuma sekitar 200 meteran saja) yang keren banget.
Di bawah, kami kemudian dibawa ke ruangan turbin oleh Pak Salim untuk
melihat-lihat, dan tentu saja, berfoto-foto, hehehe.

Malabar_1896Malabar2 Dari PLTA Lamajan yang seru, terutama karena naik
lori tuanya itu, perhentian selanjutnya adalah perkebunan teh Malabar.
Perkebunan teh tertua di Indonesia ini (didirikan oleh Bosscha pada 1896)
merupakan produsen teh kelas satu sampai sekarang, yang kata Adis, tehnya
namanya teh putih. Teh ini diekspor ke luar negeri, dan yang dipasarkan di
Indonesia hanya teh kelas duanya saja. Sayangnya, pas kita ke sana sedang ada
tamu negara dari DPR RI sehingga kita ga bisa berjalan-jalan melihat rumah
Bosscha, dan waktu juga tidak mengijinkan kita untuk mengeksplorasi gunung Nini
yang katanya merupakan sebuah titik tempat Bosscha mengamati perkebunannya.
Lain kali ya…

Dari Perkebunan Malabar kami menuju Situ Cileunca.
Danau buatan sejak jaman Belanda ini ternyata keren juga. Kami berhenti disini
untuk makan siang (atau sore, karena kami baru makan sekitar jam setengah tiga)
dan untuk berlatih arung jeram sebelum mengarungi sungai Palayangan yang
menjadi arena arung jeram kali ini. Jam setengah empat, kami sudah siap dengan
perlengkapan arung jeram dan mulai mengusung perahu kami ke Situ Cileunca untuk
berlatih. Setelah berlatih mendayung dan dianggap cukup mahir (dan
ditenggelamkan oleh sang skipper di Situ Cileunca, untuk ngetes pelampung katanya),
kami mengusung perahu lagi menuju sungai Palayangan, yang airnya memang berasal
dari Situ Cileunca.

Rafting1 Sungai Palayangan tergolong pada sungai dengan
tingkat kesulitan Class III - IV. Memiliki banyak jeram yang cukup menjanjikan,
sayangnya pas kami mengarungi sungai itu kemarin, debit air sedang berkurang
sehingga tingkat kesulitan agak berkurang. Tapi untuk para pemula seperti kami
yang sebelumnya belum pernah berarung jeram, sungai ini menyenangkan kok.
Diarungi sekitar 2 jam, selain teriak-teriak setiap kali ada jeram, kami juga
sibuk perang air dengan perahu tetangga. Kelakuannya semuanya seperti anak
kecil. Seperti kata Oden, kegiatan ini adalah sebuah kegiatan yang amat
menyegarkan setelah dikurung rutinitas, dan buat Oden, dikurung Jakarta yang macet
dan menyebalkan.

Acara arung jeram baru berakhir pada sekitar pukul
tujuh di situ Cileunca lagi. Dari sini, kami dengan badan segar, pengetahuan
baru dan teman baru, mengarungi lagi perjalanan menuju Bandung. Segar dan
senang. Ga heran, sepanjang jalan semua orang bernyanyi ga keru-keruan, hehehe…

Enci for Mahanagari

Catatan:
tonton liputannya di Reportase Minggu tanggal 15 JUli 2007 jam 5 sore di Trans
TV. Catatan lagi, tur ini bakal dibikin regular oleh Mahanagari dan Cantigi,
jadi buat yang kemarin ga sempet ikutan, tunggu jadwal dari kita

 

Diary Mahanagari: Downhill dan Cross Country Cikole to Dago (Part One)

June 28th, 2007 by mahanagari

Part One: Trek Down Hill Cikole I (Trek Latihan I)
Akhirnya gue punya waktu untuk menuliskan laporan pandangan mata hasil trialrun tim
jalan-jalan Mahanagari bersama Dark Crossers dari Cikole ke Dago, hari
Sabtu tanggal 23 Juni kemarin. Maaf agak telat nulis di Blog-nya karena
hari minggu terlalu sakit badan untuk duduk depan komputer, dan hari
senin langsung dikejar-kejar persiapan Mahanagari menghadapi Liburan
Sekolah tahun ini .. he he .. business is business, katanya.
Well, mari kita mulai cerita panjang ini … sumpah, beneran panjang sekali! :)

Tim
kita berkumpul on time jam 7.30 di markasnya Dark Crossers di Galeri
Padi - Dago. Karena Sule berhalangan, maka tim pencoba tour Bandung
kali ini hanya ada 6 orang terdiri dari Enci (satu-satunya cewek hari
itu), Yaya, Deden, Lemet, Intan dan saya sendiri-Benben. Sementara tim
Dark Crossers yang sudah siap mendampingi adalah Dody Sagir (Leader) serta para sweeper dan mekanik yaitu Guntur, Acin dan Kang Mey, plus To-ang si Fotografer.
Begitu tim siap maka kita langsung dikenalkan pada peralatan keamanan yang disuruh dipakaikan langsung ke badan. Helm, sarung tangan, vest, dan pelindung tulang kering -yang semuanya berwarna hitam. "Wah keren banget, berasa euy jadi biker teh." -itu komentar pertama kita. Kita belum tahu betapa pentingnya peralatan itu untuk 7 jam kedepan.

Lalu
kita disuruh memilih sepeda yang rupanya sudah punya nomor
masing-masing. Gue pilih nomor 4 -pengen buktiin apakah benar 4 itu
nomor sial seperti kata orang Cina. Di luar nomor yang berbeda,
sebenarnya semua sepeda Dark Crossers itu identik. Dark Crossers
sendiri lah yang nge-modalin dan merakitnya. Kata Kang Mey, Dark Crossers adalah satu-satunya operator Biking
Cross Country (XC) yang memiliki sepeda untuk para tamunya. Dengan
begitu, orang yang gak punya pengalaman dan gak punya sepeda sendiri
bisa langsung menikmati asiknya bersepeda XC tanpa harus
beli sepeda dahulu. Harga paket mereka sudah termasuk sewa sepeda.
Sepedanya keren lah, apalagi untuk standar gue yang cuman ngerti sepeda
BMX dan Betrix :)

Pakai mobil buntung, kita langsung berangkat ke Cikole melalui arah
Dago Pakar. Semua harus pake helm, takut ditilang pak Polisi di jalan
.. he he. Dan begitu nyampe kita langsung diajarin cara penggunaan
sepeda XC masing2 oleh Dody -terutama tentang rem belakannya yang
dipindah ke tangan kanan, cara berdiri/duduk yang baik di atas sepeda, cara menaikkan dan menurunkan sadel, serta tidak lupa cara  jatuh yang paling aman … hue hue .. penting bangett. Catat itu! :)  … Tidak lupa setelah kita itu berdoa bersama.
Untuk latihan kita diajak turun ke sebuah trek yang katanya dulu sempat dijadikan trek kejurnas tahun 2000. Sebuah trek pendek dengan tingkat kesulitan agak tinggi. Dody langsung memimpin di depan dengan kecepatan tinggi .. gileee!

Dengan masih takut-takut (tapi maksain berani) gue berusaha nempel di belakangnya.

Kita semua berusaha sebisa-bisanya menikmati perjalanan kita karena
di pagi hari hutan Cikole memang benar-benar indah. Foto di atas
adalah Lemet yang baru pulang dari Jakarta dan langsung menikmati
indahnya Bandung. Sampai saat… kita mulai gak bisa mengejar si Dody
dan berjatuhan ke segala arah .. ha ha ha … 

 
Di atas adalah foto jatuh pertama gue … gara-gara ada drop sedikit (drop itu semacam tangga alami) -langsung hilang lah gue dari pandangan.
Memang ternyata kita harus pandai-pandai mengatur rem. Prinsip ini musti selalu diingat: 1. Jika laju sepeda kita terlalu kencang dan kita kehilangan kontrol terhadap arah sepeda … maka kita pasti keluar jalur.
2. Kalau ngerem terlalu mendadak … pasti selip.
3. Kalau ngerem pake rem depan … terbalik!

Kalo dipikir-pikir hasilnya sama aja tuh … jatuh!..cuman, gayanya beda

Gue
kasih contoh deh: foto di atas adalah foto gue yang lupa
ngerem sehingga kehilangan kontrol arah sepeda. Lalu nabrak sisi kiri
jalan kemudian terbanting ke kanan jalan. Sakit? Iya, tapi gak separah
malu-nya :) Karena memang setelah kita jatuh satu kali, kita mulai
kehilangan sedikit rasa takut dan mulai mengacuhkan rasa sakit.
Adrenalin mulai diproduksi di dalam tubuh … jatuh = bahagia .. asal
jangan parah-parah amet jatuhnya.
 
Kasus
lain adalah yang ngerem terlalu mendadak pakai rem depan. Hasilnya
terguling la yaw. Lihat foto di atas deh. Itu Enci yang tidak
sengaja ngerem pake rem depan yang sangat pakem. Ban depan berhenti
berputar dan berubah fungsi jadi semacam pengungkit dengan Enci
terdorong momentum ke depan … wussss …

Alhamdulillah
Enci (dan kita semua) sehat walafiat, dia langsung berdiri dan bilang
"gue gak apa-apa" -padahal kita semua udah agak pucat tuh ngeliat
adegan ala Jacky Chan macam tadi.


Kalo
elu pada berpikir "serem ameet tour nya…" .. ada benernya sih. Bagian
jatuh memang terlihat serem. Tapi gak seburuk itu kok. Dengan peralatan
pengaman nempel di badan, sebenernya 80% cedera bisa dihindari.
Lagian
ada benernya juga ketika latihannya menggunakan trek yang agak-agak
sulit. Hasilnya kerasa sama gue: kepercayaan diri memang jadi
meningkat. Setelah dua kali jatuh yang agak spektakuler -bisa dibilang
gue jadi gak terlalu takut jatuh. Aneh … tapi begitulah adanya.
Toh, yang namanya Cikole … dinikmatin sambil jatuh juga .. tetep aja indah :)



Sampai
di sini dulu catatan perjalanan bagian I. Nanti kita lanjutin bagian
selanjutanya .. soalnya masih panjang tuh perjalanan kita menikmati
alam Bandung dari atas sepeda. Sesudah trek ini kita masih sempat
mencoba Trek kejurnas yang baru, lalu turun dari atas tangkuban perahu
melalui trek Jayagiri sampai ke lembang, lalu turun terus menuju dago
pakar melewati hutan.

Pokoknya mah, SiiiiiP!

benben
for mahanagari